Berita

Tim DVI Polda Jatim Berhasil Identifikasi 50 Jenazah Santri Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo

SURABAYA – Proses identifikasi korban tragedi robohnya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, terus menunjukkan perkembangan signifikan. Hingga Jumat malam (10/10/2025), Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur berhasil mengidentifikasi tiga kantong jenazah tambahan, yang terdiri dari dua jenazah utuh dan satu bagian tubuh (body part).

Kabar tersebut disampaikan oleh Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Jules Abraham Abast, di RS Bhayangkara Surabaya. Ia menjelaskan bahwa proses identifikasi masih terus dilakukan secara teliti dan berlapis, dengan fokus utama pada pencocokan data medis, gigi, dan DNA.

“Pada malam hari ini kami menyampaikan update penanganan jenazah korban robohnya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny, hasil operasi Tim DVI Polda Jatim,” ujar Kombes Pol Abast.

Sementara itu, Kabid Dokkes Polda Jatim sekaligus Komandan DVI, Kombes Pol Dr. dr. M. Khusnan Marzuki, memaparkan hasil terbaru dari proses identifikasi. Tiga kantong jenazah yang baru teridentifikasi adalah kantong nomor PM RSB B-031, PM RSB B-049, dan PM 056.1, yang seluruhnya berhasil dikenali melalui kombinasi data medis, gigi, dan DNA.

Kombes Pol Khusnan menjelaskan bahwa kantong jenazah PM RSB B-031 cocok dengan data AM 051, atas nama Moh. Alfin Mutawakkilalallah (17 tahun), santri asal Desa Lomaer, Blega, Bangkalan. Sedangkan kantong PM RSB B-049 cocok dengan AM 004, atas nama Muhammad Iklil Ibrahim Al Aqil (15 tahun), asal Dusun Tegal Gebang, Sukorejo, Bangsalsari, Jember.

Adapun body part nomor PM 056.1 berhasil diidentifikasi melalui tes DNA dan data medis, yang sesuai dengan PM 030, milik Mochammad Haikal Ridwan (14 tahun), santri asal Dusun Barat Leke, Sendang Dajah, Labang, Bangkalan.

“Dengan tambahan ini, tim gabungan hingga malam ini telah berhasil mengidentifikasi total 50 korban dari 67 kantong jenazah yang diterima,” ungkap Kombes Pol Khusnan.

Ia menambahkan, dari 67 kantong jenazah yang diterima, sebanyak 53 kantong sudah berhasil diidentifikasi dan dikonfirmasi sebagai 50 korban. Saat ini, masih terdapat 14 kantong yang dalam proses pemeriksaan lanjutan, termasuk tahap analisis DNA yang membutuhkan waktu dan ketelitian tinggi.

“Kami memahami rasa cemas keluarga korban. Namun, proses identifikasi berbasis DNA memerlukan ketepatan maksimal. Karena itu kami mohon kesabaran keluarga yang masih menunggu hasil akhir,” ujar Kombes Pol Khusnan. Ia memastikan bahwa keluarga korban yang sudah teridentifikasi, termasuk keluarga Muhammad Haikal Ridwan, telah dihubungi untuk proses penyerahan jenazah sesuai permintaan keluarga.

Sementara itu, Kabid DVI Pusdokkes Polri, Kombes Pol Wahyu Hidayati, menjelaskan bahwa proses pemeriksaan terhadap sisa kantong jenazah memasuki tahap yang lebih menantang. Hal ini disebabkan oleh kondisi sampel yang tidak lagi ideal.

“Semakin sedikit hasil yang dirilis bukan berarti kami berhenti bekerja. Namun, kualitas sampel DNA yang tersisa memang tidak sebagus sebelumnya,” jelasnya.

Menurutnya, beberapa kantong berisi body part yang membuat proses identifikasi lebih kompleks dan membutuhkan waktu lebih panjang. “Kami tidak bisa memastikan jumlah pasti korban sebelum seluruh pemeriksaan selesai. Karena itu, kami mohon keluarga bersabar,” tambah Kombes Pol Wahyu.

Ia juga menegaskan bahwa jumlah 67 kantong jenazah tidak otomatis sama dengan jumlah korban. Berdasarkan laporan, total santri yang dilaporkan hilang berjumlah 63 orang. “Satu korban bisa saja terdiri dari lebih dari satu kantong jenazah,” pungkasnya.

Polda Jawa Timur bersama Pusdokkes Polri menegaskan komitmennya untuk terus melanjutkan operasi DVI hingga seluruh korban teridentifikasi secara ilmiah. Dengan dukungan tim forensik, dokter ahli, dan laboratorium DNA, mereka berupaya memberikan kepastian dan keadilan bagi keluarga korban tragedi yang mengguncang dunia pendidikan dan kemanusiaan di Sidoarjo tersebut.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button