
Kediri, WartaJenggolo.com – Berlandaskan metode Rukyatul Hilal Global, ratusan jemaah yang tergabung dalam Forum Tabayun Kota Kediri resmi melaksanakan Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah pada Kamis (19/3/2026) pagi. Keputusan ini diambil setelah mereka menerima laporan valid keterlihatan hilal di beberapa negara seperti Afghanistan, Mali, Nigeria, dan Maroko, yang dianggap sebagai dasar sah bagi seluruh umat Muslim di dunia untuk berlebaran.
Pelaksanaan salat ied yang berpusat di Lapangan Futsal Sekartaji ini diikuti sekitar 200 hingga 300 jemaah. Sejak pagi hari, jemaah dari berbagai elemen usia, mulai dari dewasa hingga anak-anak, tampak memadati lokasi dengan khusyuk meskipun mayoritas umat Islam lainnya diperkirakan baru akan berlebaran pada Jumat (20/3/2026).
Mengacu pada Hadis dan Teknologi
Sekretaris Forum Tabayun Kota Kediri, Hadi Sasongko, menjelaskan bahwa landasan utama mereka adalah Hadis Riwayat Bukhari nomor 1909. Menurutnya, jika hilal sudah terlihat oleh kaum muslimin di belahan bumi mana pun, maka hal itu berlaku bagi seluruh umat Islam tanpa terikat batas negara.
”Tidak mungkin 1 Syawal itu dua kali. Di era teknologi saat ini, informasi penampakan hilal dari satelit maupun tim resmi di luar negeri dapat diterima dengan cepat dan akurat. Karena di Afghanistan sudah mengumumkan secara sah melalui tim rukyat resmi, maka kami mengikuti ketetapan tersebut,” ujar Hadi.
Menghargai Dinamika Beragama
Terkait perbedaan waktu hari raya dengan ketetapan umum di Indonesia, Hadi menilai hal tersebut sebagai konsekuensi logis dari perbedaan metode yang digunakan (Rukyat Lokal vs Rukyat Global). Ia menegaskan bahwa perbedaan ini adalah hal yang wajar dalam dinamika beragama.
”Saat terjadi perbedaan, kami memilih untuk melaksanakan sendiri sesuai keyakinan kami tanpa mengurangi rasa hormat kepada saudara kita yang masih berpuasa,” pungkasnya. (ang)







