
Kediri, WartaJenggolo.com – Tradisi sungkem kepada pengasuh dan kenduri ratusan tumpeng menjadi pemandangan ikonik di Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Al Falah Ploso, Kecamatan Mojo, Kediri, Jumat (20/3/2026). Ribuan santri putra dan putri tampak larut dalam suasana khidmat dan kebersamaan saat merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah lebih awal dari ketetapan Pemerintah.
Usai melaksanakan sholat Ied di halaman pesantren, para santri antre dengan tertib untuk menyalami dan memohon doa restu kepada Pengasuh Ponpes Ploso, KH Nurul Huda Jazuli. Kemeriahan pun berlanjut dengan prosesi kenduri, di mana ratusan tumpeng disantap bersama sebagai simbol syukur setelah sebulan penuh berpuasa.
Landasan Metode Hisab Lembaga Falakiyah
Meskipun Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu (21/3/2026), keluarga besar Ponpes Al Falah Ploso tetap menggelar sholat Ied pada hari Jumat. Hal ini didasarkan pada perhitungan matang dari internal pesantren.
KH Abdurrahman Al Kautsar (Gus Kautsar), salah satu pengasuh pesantren, menjelaskan bahwa penetapan ini menggunakan metode hisab yang telah dijalankan secara turun-temurun oleh para pendahulu.
”Ponpes Ploso memiliki lembaga Falakiyah sendiri yang dilakukan oleh para masyayikh. Metode hisab ini sudah digunakan sejak dahulu. Kami tegaskan bahwa perbedaan ini murni karena metode penghitungan, tidak ada kaitan dengan hal lain,” ujar Gus Kautsar saat dikonfirmasi, Jumat (20/3/2026).
Menghormati Keputusan Pemerintah
Walaupun memiliki ketetapan internal, pihak Ponpes Ploso tetap menunjukkan sikap moderat. Gus Kautsar menyampaikan bahwa pihak pondok memberikan kebebasan bagi para alumni untuk mengikuti keputusan pemerintah jika mereka menghendaki.
Sikap saling menghormati ini menjadi cermin kerukunan umat beragama di Kediri, di mana perbedaan waktu hari raya tidak mengurangi esensi kemenangan dan tali silaturahmi antarwarga maupun santri. (ang)







