BeritaNasional

Nisan Kalibata Bikin Geger! Ndalem Pojok Kediri Bongkar Catatan Tanggal Gugur Pahlawan Revolusi

Selama Ini Dikenal 30 September, Tapi Batu Nisan Para Pahlawan Revolusi di Kalibata Tertulis 1 Oktober 1965

Kediri, WartaJenggolo.com – Bukan sekadar doa. Malam 1 Oktober 2026 di Rumah Cagar Budaya Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, justru berubah menjadi ruang untuk membuka kembali satu catatan sejarah yang selama ini jarang diperbincangkan.

Di tengah suasana khidmat peringatan Pahlawan Revolusi, muncul pembahasan soal tanggal gugurnya para Pahlawan Revolusi.

Selama ini, masyarakat luas sangat lekat dengan istilah 30 September 1965. Namun dari forum yang digelar di Ndalem Pojok, muncul catatan berbeda yang didasarkan pada pengamatan langsung terhadap batu nisan para Pahlawan Revolusi di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Ketua panitia sekaligus Pengelola Situs Ndalem Pojok, R.M. Kushartono, S.M., mengaku sengaja datang langsung ke Kalibata untuk melihat dan mencatat tanggal yang tertulis pada makam para Pahlawan Revolusi.

Hasilnya, kata Kushartono, seluruh nisan yang ia amati mencantumkan 1 Oktober 1965 sebagai tanggal gugurnya.

“Saya mendatangi langsung semua makam para Pahlawan Revolusi di Kalibata, Jakarta. Saya amati dan catat satu per satu nisannya. Semua tertulis gugur pada tanggal 1 Oktober 1965,” tegas Kushartono.

Temuan itulah yang kemudian menjadi salah satu dasar Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok memilih malam 1 Oktober sebagai momentum doa bersama.

Bukan Sekadar Angka di Kalender

Kushartono mengatakan, persoalan tanggal tersebut tidak bisa dilepaskan dari kronologi waktu terjadinya peristiwa pada akhir September 1965.

Ia menyebut rangkaian penculikan dan pembunuhan berlangsung hingga dini hari. Dengan demikian, secara penanggalan, waktu tersebut telah memasuki 1 Oktober 1965.

“Kalau kita mencermati kronologi maupun literatur sejarah, peristiwa tersebut berlangsung hingga dini hari. Secara penanggalan, dini hari sudah masuk tanggal 1 Oktober,” ujarnya.

Menurutnya, yang dibutuhkan bukan sekadar perdebatan, melainkan keberanian untuk kembali membuka dokumen dan sumber sejarah secara jernih.

“Ini bukan untuk mempertentangkan pihak yang memiliki pemahaman berbeda. Justru kita ingin membuka ruang kajian berdasarkan data,” tambahnya.

Guru Sejarah: Menarik untuk Dikaji

Pembahasan tersebut mendapat perhatian dari Hendro Wijanarko, guru sejarah sekaligus penulis buku.

Setelah mencermati sejumlah dokumen sejarah, Hendro menyatakan bahwa catatan mengenai tanggal 1 Oktober 1965 memang layak menjadi bahan kajian lebih lanjut.

“Setelah saya cermati dan buka data-datanya, memang para Pahlawan Revolusi meninggal pada 1 Oktober 1965, bukan 30 September,” kata Hendro.

Menurutnya, masyarakat perlu mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap mengenai kronologi waktu peristiwa tersebut.

“Selama Ini Saya Pahamnya 30 September”

Hal senada disampaikan Ketua JKPHS Kabupaten/Kota Kediri, Erny Nengtiyas.

Erny mengaku mendapatkan wawasan baru setelah mengikuti diskusi tersebut.

“Alhamdulillah saya baru mengerti dan sadar, ternyata para Pahlawan Revolusi itu gugurnya pada tanggal 1 Oktober. Selama ini yang saya pahami adalah 30 September 1965,” ujarnya.

Ia menilai persoalan tersebut menarik apabila dibahas lebih luas karena masih banyak masyarakat yang selama ini memahami tanggal gugurnya para Pahlawan Revolusi sebagai 30 September.

Ki Hada’: Jangan Sampai Sejarah Memecah Persatuan

Di tengah pembahasan yang cukup sensitif tersebut, budayawan Kediri sekaligus penggiat seni macapat Ki Hada’ justru mengingatkan pentingnya menjaga persatuan.

Menurutnya, kajian sejarah boleh menghadirkan perbedaan pandangan. Namun perbedaan tersebut tidak boleh menghilangkan penghormatan terhadap para pahlawan.

“Boleh kita berbeda pendapat, tetapi yang paling utama kita harus tetap menjaga persatuan,” tutur Ki Hada’.

Ia mendorong temuan tersebut dikaji dengan membandingkan berbagai sumber agar masyarakat mendapatkan gambaran sejarah yang lebih utuh.

Gong Dipukul Tujuh Kali, Doa Lintas Agama Menggema

Setelah diskusi selesai, suasana Ndalem Pojok berubah menjadi hening.

Penggiat budaya Ki Jeje menyampaikan prolog sebelum prosesi doa dimulai. Tujuh kali pemukulan gong kemudian menjadi penanda dimulainya doa bersama.

“Malam ini kita melaksanakan doa bersama untuk para Pahlawan Revolusi. Mari kita siapkan diri untuk berdoa. Semoga semua arwah pahlawan mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya, seluruh amal ibadahnya diterima, dan kita sebagai generasi penerus mampu melanjutkan cita-cita perjuangan mereka,” ucap Jeje.

Doa lintas agama kemudian dipanjatkan. Selamatan menjadi penutup seluruh rangkaian kegiatan.

Di Ndalem Pojok malam itu, sejarah tidak hanya dikenang. Ia kembali dipertanyakan, dibaca ulang, dan diajak berdialog dengan data.

Dan satu pertanyaan pun kembali mengemuka: ketika batu nisan di Kalibata mencatat 1 Oktober 1965, bagaimana sebenarnya kronologi waktu gugurnya para Pahlawan Revolusi?

Pertanyaan itu kini menjadi ruang kajian yang masih terbuka untuk ditelusuri melalui berbagai sumber sejarah. (ang)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button