Berita

Berkah Lebaran: Gurihnya Cuan Tahu Bah Kacung Kediri

Kediri, WartaJenggolo.com – Hiruk-pikuk Jalan Yos Sudarso, Kota Kediri, mendadak lebih riuh dari biasanya pada Kamis (26/3/2026). Di depan sebuah gerai legendaris bercat khas, antrean kendaraan dan pejalan kaki mengular. Mereka bukan sedang mengantre tiket konser, melainkan sedang berburu “emas kuning” dari Kediri: Tahu Takwa Bah Kacung.

​Momen Idul Fitri 1447 H kali ini seolah menjadi panggung pembuktian bahwa kuliner tradisional tetap menjadi primadona di tengah gempuran makanan kekinian.

​Nafas Tradisi Sejak 1912

​Bagi para pemudik, singgah di Bah Kacung bukan sekadar urusan perut, melainkan ritual pulang kampung. Usaha yang dirintis sejak tahun 1912 ini tetap setia pada proses tradisional. Asap mengepul dari dapur produksi, aroma kedelai yang gurih menyeruak hingga ke teras toko, menyambut setiap pelanggan yang datang.

​Herman Budiono, sang nakhoda generasi ketiga, tampak sibuk mengoordinasi timnya. Wajahnya lelah namun tersenyum puas. Prediksinya tepat: animo masyarakat meledak setelah dua tahun sebelumnya sempat tertahan.

​“Tahun ini peningkatannya luar biasa, bisa lima sampai enam kali lipat dari hari biasa. Stok tambahan yang kami siapkan 3 sampai 5 kali lipat pun rasanya masih kejar-kejaran dengan pembeli yang datang,” ujar Herman di sela kesibukannya.

​Dapur yang Tak Pernah Berhenti Mengepul

​Lonjakan ini memaksa “mesin” Bah Kacung bekerja ekstra keras. Jika biasanya bahan baku kedelai hanya habis 1 hingga 2 kuintal, kini dapur mereka harus mengolah hingga 6 kuintal per hari.

​Demi memastikan setiap pelanggan pulang membawa buah tangan, jam operasional pun molor. Toko sudah menyapa pelanggan sejak pukul 06.00 pagi dan baru mengunci pintu pada pukul 22.00 malam. Para karyawan bekerja dalam sistem shift yang ketat, memastikan proses memasak terus berjalan meski pelanggan sudah memenuhi etalase.

​Tak jarang, pembeli seperti Ashifa yang datang jauh-jauh dari Yogyakarta, rela berdiri menunggu di depan penggorengan. “Belum sah mudiknya kalau belum bawa besek Bah Kacung. Rasanya beda, ada sejarah di setiap potong tahunya,” akunya.

​Menjaga Harga, Merawat Setia

​Di tengah permintaan yang meroket, Bah Kacung memilih untuk tidak “aji mumpung”. Harga tetap dipatok bersahabat di angka Rp5.000 per potong untuk Tahu Takwa, atau Rp50.000 untuk satu besek isi sepuluh.

​Selain Tahu Takwa dan Tahu Kuning yang menjadi incaran utama, varian seperti setitahu hingga jenang ketan juga ludes diborong. Pelanggan tak hanya datang dari sekitaran Jawa Timur, tapi juga dari luar pulau yang sengaja mampir saat melintasi Kota Tahu.

​Kisah Bah Kacung adalah kisah tentang konsistensi. Di usia yang melewati satu abad, ia membuktikan bahwa resep warisan yang dijaga dengan hati akan selalu menemukan jalan pulang ke ingatan para penikmatnya. (ang)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button