BeritaNasionalOlahraga

Kisah Tsany, Atlet Kriket Kediri Penjual Mawar, Rawat Ibu, dan Berjuang Lawan Biaya UKT

Kediri, WartaJenggolo.com – “Waktu tahu UKT cukup tinggi, saya sempat bingung dan sedih,” ungkap Tsany Zahratussita (18) dengan nada lirih. Kalimat itu menggambarkan kegelisahan mendalam seorang remaja yang baru saja dinyatakan lolos ke Universitas Negeri Malang (UM) jalur prestasi. Di balik kebanggaannya sebagai atlet kriket peraih medali nasional, Tsany kini dihantui bayang-bayang biaya kuliah sebesar Rp 4.750.000 per semester yang terasa mustahil dipenuhi dari kantong penjual mawar.

​Meski pihak kampus memberikan pembebasan biaya untuk dua semester awal, masa depan pendidikan Tsany di semester selanjutnya masih menjadi tanda tanya besar. Ia sangat berharap adanya perhatian dari pemerintah melalui beasiswa berkelanjutan agar mimpinya mengubah nasib keluarga tidak kandas di tengah jalan.

Wangi Mawar di Balik Ujian Berat Keluarga

​Di sebuah rumah sederhana di Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, Tsany bersama ibunya, Maftukhatul Khoiriyah (48), menyambung hidup dengan membudidayakan mawar. Sejak sang ayah meninggal dunia, kondisi ekonomi keluarga sepenuhnya bertumpu pada usaha bunga ini.

​Ujian kian berat karena sang ibu tengah berjuang melawan tumor otak yang diidapnya sejak empat tahun lalu. Belum lagi, sang kakak baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas yang mengharuskan operasi rahang. Di rumah tersebut, Tsany menjalankan peran ganda: sebagai anak, perawat sang ibu, sekaligus pengelola kebun bunga.

​”Saya membantu ibu jualan bunga sekaligus merawat tanaman. Ini untuk tambahan biaya sehari-hari,” kata Tsany saat ditemui di kediamannya, Kamis (23/4/2026).

Dari Lapangan Kriket Menuju Kursi Kuliah

​Meski memikul beban hidup yang berat, Tsany tidak membiarkan prestasinya layu. Ia adalah atlet kriket yang gigih. Bergabung sejak awal 2025, ia telah menyumbangkan:

  • Medali Perunggu pada ajang Porprov Jawa Timur 2025.
  • Medali Perak pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Bali.

​Prestasi inilah yang mengantarkannya diterima di program studi S1 Ilmu Komunikasi UM. Baginya, pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengangkat derajat keluarganya dan membiayai pengobatan ibunya yang sempat mengalami kelumpuhan pada anggota gerak kanan akibat tumor.

Harapan Besar untuk Masa Depan

​Sambil menunggu jadwal perkuliahan, Tsany tetap menyibukkan diri dengan meronce bunga untuk menambah penghasilan. Ia juga bertekad untuk tetap melanjutkan karier atletnya di Malang nanti, dengan harapan bisa menjadi pelatih profesional di masa depan.

​”Motivasi terbesar saya adalah ibu. Saya ingin sekolah dan mengejar cita-cita tanpa harus terlalu terbebani biaya,” pungkasnya.

​Kisah Tsany adalah potret perjuangan anak bangsa yang berprestasi namun terbentur dinding ekonomi. Kini, bola ada di tangan pemangku kebijakan untuk memastikan tunas prestasi dari Kediri ini tidak gugur sebelum berkembang. (ang)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button