BeritaBusiness

Merajut Harapan di Balik Jeruji: Kala Jemari Warga Binaan Lapas Kediri Menghasilkan Karya Berkelas Industri

​Kediri, WartaJenggolo.com — Di balik tembok tinggi Lembaga Pemasyarakatan (Laps) Kelas IIA Kediri, kesibukan tak biasa tampak merayap saban akhir pekan. Benang-benang aneka warna yang terurai lembut perlahan bertaut melalui jemari telaten para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Saban Sabtu, mereka berkumpul bukan sekadar untuk mengisi waktu luang, melainkan merajut asa dan keterampilan baru demi menata masa depan yang lebih cerah.

​Pelatihan merajut bernilai ekonomi ini digelar berkat kolaborasi erat antara Lapas Kelas IIA Kediri dengan PT Arta Jayandra Perkasa. Sebanyak 14 warga binaan—terdiri dari 7 pria dan 7 wanita—tampak tekun mempelajari setiap jengkal teknik merajut yang presisi.

​Sentuhan Profesional dari Solo untuk Standar Produk Industri

​Bukan sekadar pelatihan biasa, para peserta digembleng langsung oleh Manda Handayani, pemilik sekaligus CEO dari kerajinan rajut ternama yang diboyong khusus dari Solo. Setiap minggunya, Manda mendampingi warga binaan agar karya yang dihasilkan tidak sekadar rapi, tetapi juga memenuhi standar kualifikasi pasar.

​Para peserta diajarkan memahami seluruh rantai produksi:

  • ​Teknik dasar dan kerapian jahitan: Memastikan simpul rajut kuat dan konsisten.
  • ​Presisi pola: Menjaga ukuran dan bentuk karya agar sesuai pesanan.
  • ​Kendali mutu (quality control): Menjamin setiap detail memiliki nilai estetika dan nilai jual tinggi.

​”Setiap hasil karya harus memenuhi standar produksi, mulai dari teknik dasar, presisi pola, hingga kualitas akhir. Bagi Warga Binaan yang sudah mahir dan memenuhi kualifikasi, tentu akan terus kami libatkan dalam proses produksi perusahaan,” terang Komisaris PT Arta Jayandra Perkasa, Arja Rusli.

​Dari Dalam Lapas Menuju Rantai Pasok Nasional

​Ikhtiar ini bukan lagi sekadar wacana di atas kertas. Karya para warga binaan kini telah resmi menembus rantai produksi nasional. Sepanjang bulan ini saja, Lapas Kediri telah mengirimkan puluhan kerajinan rajut—mulai dari tas elegan, dompet, hingga boneka lucu—ke Solo untuk diproses dan dipasarkan lebih lanjut oleh PT Arta Jayandra Perkasa.

​Tak hanya mengasah keahlian, program ini memberi dorongan finansial nyata. Warga binaan yang karyanya memenuhi standar industri berhak menerima premi atau upah produksi. Hal ini menjadi suntikan semangat sekaligus bentuk apresiasi atas kerja keras mereka selama menjalani masa pembinaan.

​Bekal Nyata untuk Kembali ke Tengah Masyarakat

​Kalapas Kediri, Gatot Tri Rahardjo, menegaskan bahwa fokus utama program kemandirian ini adalah memberikan bekal hidup yang dapat diandalkan saat para warga binaan bebas kelak.

​”Kami ingin setiap pelatihan tidak berhenti pada proses belajar saja, tetapi benar-benar menjadi bekal produktif saat mereka kembali ke tengah masyarakat. Kami sangat mengapresiasi PT Arta Jayandra Perkasa yang telah membuka pintu kesempatan ini,” ungkap Gatot penuh optimisme.

​Melalui helai demi helai benang rajut yang bertaut, Lapas Kediri bersama para mitra membuktikan bahwa tembok penjara bukanlah akhir dari segalanya, melainkan titik awal untuk belajar, berkarya, dan kembali berdaya. (ang)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button