
Kediri, WartaJenggolo.com – Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kediri, Dea Andarina, memimpin acara bertajuk Harmoni (Hadir untuk Membangun Kolaborasi, Edukasi, dan Sinergi) bersama insan media dan mitra strategis di Bercakap Kopi, Kabupaten Kediri, Selasa (14/4). Acara ini menjadi wadah diskusi mendalam mengenai kondisi ekonomi terkini, baik skala global, nasional, maupun regional, serta memperkuat peran media dalam menyampaikan informasi yang akurat dan membangun.
Tiga Tujuan Strategis Acara Harmoni
Dea Andarina menjelaskan bahwa kegiatan ini memiliki tiga tujuan utama. Pertama, mempererat silaturahmi dan kolaborasi yang saling menguntungkan. Kedua, menyampaikan update kebijakan dan perkembangan ekonomi pasca Ramadan serta Idul Fitri 1447 H.
“Yang ketiga, kami ingin mendorong peran strategis media untuk menyampaikan kebijakan secara akurat, transparan, dan berimbang. Penting bagi kita bersama-sama membangun dan menjaga optimisme masyarakat di tengah kondisi ekonomi global yang sedang bergejolak,” ujar Dea.
Menurutnya, saat ini banyak informasi yang beredar yang kerap memunculkan kesan pesimis. Melalui sinergi ini, diharapkan tercipta alignment atau keselarasan komunikasi agar masyarakat tetap percaya diri dan berkontribusi aktif memajukan perekonomian.
Ekonomi Global Melambat, Domestik Tetap Tangguh
Dalam paparannya, Dea memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 diproyeksikan melambat menjadi sekitar 3,2 persen, turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 3,3 persen. Hal ini dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik, krisis energi, hingga fragmentasi perdagangan di mana negara-negara lebih fokus mengamankan kepentingan domestik masing-masing.
Kondisi ini juga berdampak pada volatilitas nilai tukar rupiah yang sempat berfluktuasi. Namun, Dea menegaskan bahwa perekonomian Indonesia tetap terjaga dan menunjukkan resiliensi yang kuat.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih solid. Bank Indonesia terus berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi agar tetap terkendali di sasaran 2,6±1 persen,” tegasnya.
Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Kediri Tumbuh 4,31 Persen, Pacitan Tertinggi
Secara regional, agregat ekonomi wilayah kerja BI Kediri yang mencakup 13 kota/kabupaten (Kediri Raya, Madiun, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Pacitan, Magetan, Ngawi, Nganjuk, dll) tercatat tumbuh sebesar 4,31 persen. Angka ini sedikit melambat dibanding periode sebelumnya (4,39%) dan masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan Jawa Timur maupun Nasional yang berada di kisaran 5 persen.
Menariknya, secara spasial, Kabupaten Pacitan mencatatkan pertumbuhan tertinggi, sementara Kota Kediri berada di posisi terendah.
“Di Pacitan, pertumbuhannya bagus karena ekonomi tidak lagi hanya mengandalkan sektor primer, tapi sudah merambah ke pariwisata dan industri. Sektor hotel, restoran, dan travel agent mulai bermunculan dan menggeliat,” jelas Dea.
Sebaliknya, Kota Kediri yang andalan utamanya adalah sektor industri, dinilai perlu lebih agresif mengembangkan sektor pendukung lainnya, seperti pariwisata dan event besar, contohnya melalui agenda Kediri Half Marathon yang diharapkan bisa mendatangkan wisatawan.
Konsumsi Rumah Tangga Jadi Penggerak Utama
Dari sisi pengeluaran, faktor terbesar yang mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Mataraman adalah Konsumsi Rumah Tangga. Sementara itu, konsumsi pemerintah mengalami normalisasi dan investasi masih cenderung moderat atau wait and see.
“Yang menggerakkan ekonomi sebenarnya kita-kita ini. Jadi pesan saya, tetaplah belanja dengan bijak, utamakan produk sekitar, beli bahan pangan lokal, dan dukung UMKM agar roda ekonomi terus berputar,” ajaknya dengan santai.
Inflasi Terkendali, Waspada Dampak Cuaca ‘Godzilla’
Hingga Maret 2026, inflasi di wilayah pemantauan (Kediri 0,41%, Madiun 0,49%, Tulungagung 0,43%) dinilai masih terkendali. Kenaikan harga didominasi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, terutama daging ayam ras yang permintaannya melonjak pasca Lebaran.
Selain faktor musim, dinamika global juga berpengaruh. Salah satu komoditas yang harganya meroket dan mempengaruhi inflasi adalah harga emas yang sempat menyentuh level tinggi, di samping harga minyak dunia.
“Ke depan inflasi diprediksi akan mereda karena tidak ada lagi hari besar nasional. Namun kita harus waspada tekanan dari sisi pasokan pangan akibat gangguan cuaca seperti fenomena La Nina dan ‘Godzilla’ (kemarau panjang/kekeringan) yang bisa mengganggu produksi,” ungkapnya.
Oleh karena itu, BI mendorong kerjasama antar daerah dan memulai gerakan memanfaatkan lahan pekarangan untuk ketahanan pangan.
Kredit Modal Kerja Kontraksi, Jadi Perhatian Serius
Data intermediasi perbankan menunjukkan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh positif 3,3 persen. Namun, penyaluran kredit justru terkontraksi minus 0,7 persen, yang menjadi beban bagi pertumbuhan kredit nasional.
Yang menjadi perhatian khusus adalah penurunan terjadi pada Kredit Modal Kerja, padahal sektor ini sangat krusial bagi pelaku usaha untuk ekspansi. Sementara kredit konsumsi dan investasi masih tumbuh positif.
“Penurunan ini terutama terjadi di sektor industri pengolahan, perdagangan, dan jasa. Ini mencerminkan pelaku usaha masih wait and see. Meski demikian, rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 3,49% masih dalam batas aman dan terkendali,” terang Dea.
Optimisme Masyarakat Masih Positif, BI Perkuat Program UMKM
Meski Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) secara umum masih di atas angka 100 (kategori optimis), namun trennya menunjukkan penurunan sejak akhir 2025 lalu akibat ketidakpastian kondisi ekonomi dan pasar kerja.
Untuk itu, BI Kediri terus berupaya menjaga sentimen positif melalui berbagai program. Tahun ini, fokus kegiatan antara lain adalah penguatan kapasitas pelaku usaha, pendampingan UMKM Go Digital, hingga membantu UMKM tembus pasar ekspor, termasuk komunitas kopi.
“Kami berharap semua pihak tetap optimis. Mari bersinergi membangun ekonomi yang lebih baik,” pungkas Dea Andarina. (ang)







