BeritaBusiness

Solusi dari Rumah: Cara Suprayitno Ubah Sampah Jadi ‘Emas’ Lewat Budidaya Maggot

Kediri, WartaJenggolo.com — Berawal dari rasa gelisah melihat persoalan sampah rumah tangga yang tak kunjung usai, Suprayitno (48) tak mau tinggal diam. Warga RT 003 RW 002, Dusun Mulyoasri, Desa Bogokidul, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri ini memilih mencari solusi langsung dari lingkungan rumahnya sendiri.

Alih-alih membiarkan sisa makanan berakhir begitu saja di tempat pembuangan, pria ramah ini menyulap ruang kecil berukuran 3×5 meter di belakang rumahnya menjadi sarana budidaya maggot (Black Soldier Fly). Di sudut sederhana itulah, siklus kehidupan maggot berputar—mulai dari telur, larva, hingga menjadi pakan ternak bernutrisi tinggi.

Kreatif dan Hemat: Galon Bekas Jadi Wadah Budidaya

Menariknya, Suprayitno membuktikan bahwa memulai usaha tak selalu butuh modal besar. Peralatan yang digunakannya mayoritas memanfaatkan barang-barang bekas yang ada di sekitar rumah.

Salah satunya adalah galon bekas air minum kemasan ukuran 15 liter. Wadah plastik ini dimanfaatkan secara kreatif sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya maggot dari ukuran mikro hingga siap panen.

“Saya terinspirasi karena sampah ini masalah nasional yang belum selesei. Padahal kalau kita jeli, sampah itu sebenarnya uang. Selama ini cuma dibuang, padahal bisa kita ubah jadi maggot yang punya nilai ekonomi,” ujar Suprayitno saat ditemui di kediamannya.

Untuk urusan pakan maggot, ia tidak pusing. Berbagai sampah basah seperti sisa buah, sayuran, hingga limbah kuliner rumah tangga dimanfaatkan dengan maksimal. Bahkan, ia juga mendapat pasokan bahan organik dari sisa makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari dapur umum di sekitar lingkungannya.

Panen 15 Hari dan Ciptakan Ekosistem Mandiri

Proses budidaya maggot terbilang sangat ramah waktu. Dari tahap awal hingga siap panen, waktu yang dibutuhkan maksimal hanya sekitar 15 hari. Karakter usahanya yang praktis membuat aktivitas ini sangat cocok dijadikan usaha sampingan di rumah.

Meski usahanya baru berjalan kurang dari satu bulan, hasilnya sudah mulai terlihat. Suprayitno mengaku telah menerima sejumlah pesanan dari peternak lokal. Saat ini, maggot segar hasil budidayanya dibanderol seharga Rp 10.000 per kilogram.

“Ke depan, saya mau pakai sendiri juga untuk pakan ikan dan ayam. Kita siapkan pakan dari maggot dulu biar hemat. Kalau pakannya gratis dari olahan sampah, ekosistem usahanya bisa jalan terus,” ungkapnya optimistis.

Memutus Rantai Sampah Langsung dari Akarnya

Bagi Suprayitno, dampak lingkungan jauh lebih bernilai dibanding sekadar keuntungan materi. Ia berharap gerakan kecilnya ini bisa menginspirasi tetangga dan masyarakat luas untuk mengubah cara pandang terhadap sampah.

Jika setiap rumah tangga mau mengolah sampah organiknya menjadi maggot dan memilah sampah plastiknya, volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akan berkurang secara drastis.

“Artinya kita bisa memutus rantai sampah langsung dari akarnya. Yang organik dimakan maggot, yang plastik disisihkan untuk dijual. Siapapun warga yang mau belajar budidaya maggot, saya siap mendampingi sampai bisa,” pungkasnya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button