
Kediri, WartaJenggolo.com — Ratusan warga Desa Puncu, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, mendatangi Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri pada Jumat (16/10/2026). Kedatangan warga bertujuan menghadiri mediasi terkait tuntutan penutupan permanen aktivitas penambangan galian C milik PT Empat Pilar Anugerah Sejahtera (PT EPAS/PT Emas).
Audiensi yang berlangsung di Ruang Meeting Lantai 2 Pemkab Kediri tersebut dihadiri oleh perwakilan warga dan kepala desa, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kediri beserta jajaran, Camat Puncu, perwakilan manajemen PT EPAS, serta Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Timur.
Penambangan Ditutup Sementara Menunggu Hasil Kajian Independen
Kepala Dinas ESDM Provinsi Jatim, MHD. Aftabuddin Rijaluzzaman, menjelaskan bahwa pemerintah telah menampung seluruh aspirasi warga. Dari hasil audiensi, disepakati bahwa operasional penambangan PT EPAS dihentikan sementara waktu.
”Kesepakatan hari ini, maka sementara tutup. Namun karena PT EPAS ini adalah perusahaan legal dengan izin resmi hingga 2027, pemerintah tidak bisa mengambil langkah sepihak. Pihak perusahaan berbesar hati untuk menutup sementara usahanya sembari menunggu hasil kajian lingkungan,” ujar Aftabuddin.
Ia menambahkan, evaluasi dampak lingkungan akan dilibatkan kepada lembaga independen di luar birokrasi guna menjamin transparansi serta menghindari benturan kepentingan (conflict of interest). Jika hasil kajian merekomendasikan penutupan total, maka izin operasional akan dihentikan secara resmi.
Tuntutan Warga Puncu: Penutupan Permanen Harga Mati!
Meski pemerintah menetapkan penutupan sementara, warga Desa Puncu bersikeras menuntut penutupan permanen tanpa syarat. Aktivitas pengerukan material tambang dinilai telah merusak ekosistem alam, mengancam ketersediaan air bersih, serta meningkatkan risiko bencana alam di kawasan lereng Gunung Kelud.
Sugeng Gobis, tokoh masyarakat asal Puncu Sukomoro, menegaskan keselamatan ribuan jiwa warga Puncu jauh lebih berharga dibanding kepentingan modal usaha.
”Bagi masyarakat Puncu, tutup total adalah harga mati! Kawasan Puncu adalah daerah yang paling terdampak fatal saat letusan Gunung Kelud tahun 1990 dan 2014. Kalau hulunya terus dikerok tanpa ampun, aliran lahar dingin dan tanah longsor sangat mengancam keselamatan anak cucu kami,” tegas Sugeng.
Ia juga menyentil kepatuhan perusahaan dan mengingatkan agar para pemangku kebijakan tidak mengabaikan ancaman bencana lingkungan demi mementingkan pengusaha semata.
Camat Puncu Apresiasi Respon Cepat Pemkab Kediri dan Pemprov Jatim
Camat Puncu, Firman Tappa, mengapresiasi respon cepat Pemkab Kediri dan Pemprov Jatim dalam memfasilitasi keluh kesah warga. Menurutnya, penutupan sementara ini berlaku hingga tim independen bentukan Dinas ESDM Provinsi Jatim selesai melakukan kajian komprehensif di lapangan.
”Isu yang disuarakan warga mencakup penurunan kualitas pasokan air bersih, kerusakan infrastruktur jalan, dan ancaman lingkungan. Pihak PT EPAS sendiri mengakui bahwa mereka belum pernah menggelar konsultasi atau uji publik bersama warga, yang mestinya dilakukan minimal sekali dalam setahun,” ungkap Firman.
Ia berharap proses evaluasi yang dilakukan oleh tim independen kelak dapat melahirkan win-win solution yang mengutamakan keselamatan masyarakat serta kelestarian lingkungan hidup di Kecamatan Puncu. (ang)







