Berita

Jalan Hancur, Air Terancam, Nyawa Melayang! 2.000 Warga Kediri Desak Tambang PT Empat Pilar Ditutup

Kediri, WartaJenggolo.com — Kesabaran warga habis. Sebanyak 2.000 warga dari Desa Puncu dan Desa Satak, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, turun ke jalan, Senin (12/10/2026). Mereka mengepung Kantor Kecamatan Puncu, menggelar aksi damai disertai pawai untuk satu tuntutan harga mati: Tutup total tambang galian C PT Empat Pilar.

Sejak pagi, massa memadati halaman kantor kecamatan. Orasi demi orasi membakar semangat. Perwakilan warga, Pak Gianto, mengingatkan ancaman jangka panjang dari aktivitas pengerukan tanah itu.

“Kita akan hancur, kita lihat perkebunan pada tahun 90. Sebelum dia digali, lestari hancur satu kampung. Bila salah terus digali, bagaimana nasib anak cucu yang ada?” teriak Gianto di hadapan ribuan massa.

Teriakan “Mundur!” pun pecah serentak. Warga mengangkat tangan, mendesak agar alat berat jenis becho di lokasi tambang segera ditarik mundur dalam batas waktu 2×48 jam.

Bukan Sekadar Rusak, Tapi Sudah Menelan Korban

Tokoh masyarakat Puncu, Suwito, menegaskan aksi ini bukan tanpa dasar. Tambang yang sudah beroperasi sekitar 6 tahun ini disebut lebih banyak membawa mudarat.

Tiga malapetaka yang dirasakan warga:

1. Krisis Air Bersih. Aktivitas tambang dituding mengancam sumber mata air. Di tengah musim kemarau, warga bahkan kesulitan untuk minum dan mandi.

2. Infrastruktur Hancur Lebur. Jalan desa yang hanya dirancang untuk beban maksimal 5 ton, setiap hari dipaksa menanggung truk tambang bermuatan 15 hingga 20 ton. Akibatnya, jalur utama Puncu – Kepung rusak parah.

3. Sudah Ada Korban Jiwa. Jalan rusak itu telah memicu kecelakaan hingga merenggut nyawa warga, meninggalkan anak-anak yang kini menjadi yatim.

“Gak dosa panjenengan melihat anak-anak kecil dizalimi cuma gara-gara tambang? Tolong buka mata panjenengan!” tegas Suwito dengan nada geram.

Senada, tokoh warga lainnya, Subagio, menegaskan penutupan total adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.

Ditegur 5 Kali Tak Digubris, Warga Tempuh Jalur Formal

Rekam jejak PT Empat Pilar juga menjadi lima kali dalam kurun 2021-2025, namun tak pernah diindahkan.

Upaya formal pun buntu. Surat resmi ke ESDM Provinsi Jawa Timur pada 17 Oktober 2026 dan permohonan audiensi ke DPRD Kabupaten Kediri pada 9 Oktober 2026 disebut menguap tanpa kejelasan.

“Tambang tidak ada manfaatnya sama sekali untuk masyarakat, lebih banyak mudaratnya. Alam rusak, lingkungan rusak, prasarana air bersih ikut rusak. Kami sudah resah, tambang harus ditutup. Kalau pemerintah tidak menutup, kami yakin warga akan menutup dengan cara kami sendiri apapun yang terjadi,” ujar Suwito usai mediasi.

Camat Puncu Ambil Sikap: Hentikan Sementara

Setelah berorasi selama 15 menit, perwakilan pendemo akhirnya diterima untuk mediasi oleh Camat Puncu, Firman Tappa, S.STP., M.H., bersama jajaran Muspika dan aparat keamanan.

Di hadapan warga, Firman Tappa mengaku mendengar langsung keluh kesah warga dan merasakan sendiri dampak kerusakan jalan tersebut. Demi mencegah hal yang tidak diinginkan, ia mengambil langkah taktis.

“Prinsipnya, hari ini kami segera berkoordinasi dengan dinas terkait di provinsi dalam waktu yang tidak terlalu lama untuk mengadakan audiensi dengan melibatkan panjenengan semua. Dan untuk sementara, proses aktivitas yang ada di lokasi kita hentikan dulu guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” tegas Firman Tappa.

Keputusan penghentian sementara itu disambut lega oleh warga. Namun, mereka menegaskan akan terus mengawal hingga izin tambang PT Empat Pilar benar-benar dicabut permanen. (ang)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button