
Kediri, WartaJenggolo.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, mulai memasuki babak baru. Sejumlah penyesuaian regulasi kini diberlakukan, menuntut para penerima manfaat serta pelaksana di tingkat desa untuk segera beradaptasi dengan skema distribusi yang lebih ketat.
Langkah sosialisasi perubahan ini digelar dalam rapat koordinasi bersama Forkopimcam dan para PIC penerima manfaat di Balai Desa Canggu pada Kamis (16/4/2026).
Perubahan Jadwal: Hanya Senin sampai Jumat
Salah satu poin krusial dalam kebijakan terbaru ini adalah sinkronisasi jadwal distribusi dengan kalender pendidikan. Koordinator SPPG Kecamatan Badas, Ahmad Latif Syarifuddin, menegaskan bahwa mulai saat ini, makanan hanya akan dibagikan pada hari aktif sekolah.
”Sekarang hanya Senin sampai Jumat. Kalau tidak ada kegiatan belajar mengajar (KBM), maka tidak ada distribusi,” jelas Latif dalam pertemuan tersebut.
Skema Makanan Basah: Dilarang Bawa Pulang
Selain jadwal, pola penyajian menu juga mengalami transformasi total. Pemerintah kini mewajibkan seluruh menu disajikan dalam bentuk makanan basah yang harus segera dikonsumsi di lokasi. Kebijakan ini menghapus skema pemberian menu kering atau paket makanan yang bisa dibawa pulang ke rumah.
”Kebijakan ini diambil demi menjaga kualitas nutrisi dan memastikan makanan tersebut benar-benar dikonsumsi langsung oleh penerima manfaat, bukan disimpan terlalu lama yang berisiko merusak kandungan gizinya,” tambahnya.
Perluasan Jangkauan: Target Seluruh Balita Ter-cover
Meskipun aturan diperketat, Pemerintah Kecamatan Badas justru tancap gas dalam memperluas jangkauan program. Camat Badas, Prasetyo Iswahyudi, mengungkapkan bahwa infrastruktur pendukung berupa dapur MBG akan terus ditambah.
Saat ini, sudah ada enam dapur MBG yang beroperasi penuh. Dalam waktu dekat, dua dapur baru akan segera diresmikan untuk mempercepat distribusi.
”Masih ada balita di beberapa desa yang belum ter-cover sepenuhnya. Kami terus berupaya agar seluruh kelompok sasaran bisa segera terlayani dengan penambahan dua dapur baru ini,” ungkap Prasetyo.
Kualitas Terjamin dengan Tenaga Ahli & Bahan Lokal
Untuk memastikan standar kesehatan, pengolahan makanan di setiap dapur dilakukan oleh tenaga ahli yang telah mengantongi sertifikat resmi. Tak hanya soal gizi, program ini juga menggerakkan ekonomi kerakyatan karena sebagian besar bahan pangan dipasok langsung dari petani dan sumber lokal di wilayah Kediri.
Prasetyo berharap, melalui sosialisasi yang masif hingga tingkat desa, masyarakat tidak salah paham mengenai perubahan aturan ini. Tujuan utamanya tetap satu: intervensi gizi yang tepat sasaran.
”Harapannya, anak-anak di Kecamatan Badas bisa mendapatkan asupan gizi yang baik secara merata untuk mendukung tumbuh kembang mereka,” pungkasnya. (ang)







