
Kediri, WartaJenggolo.com – Ukhuwah pesantren tak melulu harus di ruang seminar yang kaku. Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Kediri Raya membuktikan, persaudaraan bisa dirawat dengan cara yang hangat dan gayeng: lewat halaqoh keagamaan yang dilanjut laga persahabatan mini soccer.
Bertempat di Inzia Mini Soccer, Jumat malam (30/10/2026), sekitar 150 peserta dari puluhan pondok pesantren se-Kota dan Kabupaten Kediri tumpah ruah. Mereka berkumpul dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026. Para pengasuh, Gus, dan pengurus pesantren berbaur tanpa sekat.
Suasana akrab begitu terasa. Jika siang membahas tata kelola pesantren, malamnya mereka berjibaku di atas rumput sintetis. Perbedaan tradisi dan karakter tiap pesantren melebur menjadi satu semangat: persaudaraan.
Gus Muid: Pesantren Jangan Jalan Sendirian
Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH Abdul Mu’id Shohib atau Gus Muid, menegaskan forum seperti ini sangat vital. Menurutnya, kesan bahwa pesantren harus berjuang sendirian menghadapi masalah harus dihapus.
“Setiap pesantren punya tradisi dan karakter masing-masing. Itu kekayaan, bukan pembatas. Lewat forum komunikasi dan sinergi ini kita bisa saling berbagi best practices dan SOP penanganan masalah,” tutur Gus Muid.
Ia mencontohkan praktik sederhana namun efektif, seperti pembentukan satuan tugas (satgas) khusus untuk mencegah kasus pencurian barang santri yang lazim disebut gosok. Keberhasilan di satu pesantren, bisa diadaptasi oleh pesantren lain.
Gus Muid juga mendorong agar RMI aktif membangun studi banding hingga ke luar daerah, seperti jejaring RMI Banyuwangi, untuk memperluas wawasan pengelolaan lembaga.
Gus Ais: Yang Kita Cari Persaudaraan
Ketua Panitia yang juga Pengasuh Ponpes Al-Hikmah Purwoasri, Gus Harisul Ilmi Da’in atau Gus Ais, menyebut halaqoh sengaja dikemas santai agar cair.
“Halaqoh ini ibarat tempat kita berkumpul, berdiskusi, dan bersilaturahmi secara gayeng. Yang kita cari adalah persaudaraan. Ketika seluruh pondok pesantren bersatu dan menyambung silaturahmi, kita sedang menjalankan apa yang dicita-citakan Rasulullah SAW,” ujar Gus Ais.
Menurutnya, ini bukan agenda seremonial sekali lewat. Ini adalah upaya berkelanjutan RMI untuk merawat kebersamaan, terutama di kalangan generasi penerus kepemimpinan pesantren di Kediri Raya.
Mini Soccer, Pencair Suasana
Pemilihan mini soccer menjadi kunci. Setelah diskusi yang serius, olahraga menjadi jembatan untuk membangun kedekatan personal di luar hubungan formal antar-lembaga.
Di lapangan, tidak ada lagi senior-junior, pesantren besar-kecil. Yang ada hanya tawa, teriakan dukungan, dan semangat kebersamaan.
Panitia pun menyampaikan terima kasih kepada Inzia Mini Soccer yang telah memfasilitasi tempat, serta Hilwa Wisata yang mendukung pengadaan jersey peserta.
Melalui perpaduan halaqoh dan olahraga ini, RMI NU berharap pesantren di Kediri Raya tidak hanya kokoh sebagai lembaga pendidikan dan dakwah, tetapi juga menjadi ekosistem yang saling menopang dan tumbuh bersama menghadapi tantangan zaman.
Hari Santri pun tak berhenti pada seremoni. Ia hidup dalam persatuan yang terus dirawat. (ang)







