Berita

100 Pemuda Kediri Ngopi Bareng AMPI, Refleksikan Makna Sumpah Pemuda di Era Digital

Ketua DPD AMPI Kota Kediri Pramudya Ananta Permana Tekankan 10 Sikap Pemuda yang Dibutuhkan Indonesia Saat Ini

Kediri, WartaJenggolo.com – Sekitar 100 pemuda dari berbagai komunitas dan organisasi kepemudaan di Kota Kediri berkumpul dalam acara “Ngopi Bareng Pemuda” yang digelar DPD AMPI Kota Kediri, Selasa (28/10/2026) malam. 

Acara yang bertempat di Sekretariat DPD AMPI Kota Kediri, Jl. Super Semar No.43, Ngronggo, Kec. Kota, Kediri ini menjadi ajang refleksi memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 dengan tema membangun masa depan bangsa dengan semangat dan kreativitas.

Ketua DPD AMPI Kota Kediri, Pramudya Ananta Permana, mengatakan peringatan Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti pada seremoni upacara dan hafalan Pancasila semata. Menurutnya, esensi Sumpah Pemuda harus tercermin dalam sikap hidup sehari-hari generasi muda.

“Sikap generasi muda untuk negeri ini bukan cuma soal upacara dan hafal Pancasila. Ini soal cara kita hidup sehari-hari,” tegas Pramudya di hadapan ratusan pemuda yang hadir.

Dalam refleksi tersebut, Pramudya merumuskan 10 sikap kunci yang paling dibutuhkan Indonesia saat ini. 

Pertama, cinta negeri yang kritis bukan buta. Ia menilai cinta Indonesia harus dibarengi keberanian untuk mengkritik hal yang salah dan tidak mudah termakan hoaks. Kedua, toleran di tengah perbedaan. Beda suku, agama, dan pilihan politik harusnya tetap bisa duduk satu meja dan ngopi bareng.

Ketiga, jujur dan anti-nepotisme dari hal kecil. Integritas, kata dia, dimulai dari tidak mencontek, tidak titip absen, hingga tidak meminta jalur orang dalam. Keempat, melek digital tapi beretika, yakni memanfaatkan teknologi untuk karya, bukan sekadar flexing atau menyebar aib orang lain.

Kelima, kerja nyata bukan cuma komentar. “Negeri ini sudah kebanyakan pengamat, kurang pelaku. Daripada menghujat di kolom komentar, lebih baik bikin solusi kecil di sekitar, seperti bantu UMKM tetangga bikin logo atau bersihin selokan di Kediri,” ujarnya.

Keenam, bangga jadi Indonesia tapi mau belajar dari dunia. Ketujuh, peduli lingkungan bukan tren sesaat, seperti konsisten membawa tumbler dan tidak membuang sampah ke Sungai Brantas.

Kedelapan, berani mandiri secara ekonomi dengan menciptakan lapangan kerja, bukan hanya menunggu lowongan PNS. Kesembilan, menghargai sejarah tapi tidak terjebak di masa lalu. Dan kesepuluh, gotong royong versi baru, mulai dari patungan beasiswa, open source bareng, hingga donasi darah.

Pramudya menutup refleksinya dengan satu pesan utama untuk pemuda Kediri.

“Intinya satu kalimat: Jangan tanya terus ‘negara sudah kasih apa ke saya?’, tapi mulai tanya ‘saya sudah kasih apa yang jujur dan berguna untuk negara?'” pungkasnya.

Acara ngopi bareng ini berlangsung hangat dan interaktif. Para pemuda saling bertukar gagasan tentang peran mereka dalam pembangunan Kota Kediri menuju Indonesia Emas 2045. (ang) 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button