Berita

Langkah Konkret Pengelolaan Sampah, Imam Wihdan Zarkasyi Ajak Warga Kediri Mulai dari Lingkungan Terkecil

Kediri, WartaJenggolo.com — Persoalan sampah di Kota Kediri memerlukan perhatian dan keterlibatan bersama. Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Kediri, Imam Wihdan Zarkasyi, S.T., M.M., menekankan pentingnya kesadaran dalam mengelola sampah yang dimulai langsung dari sumbernya, yakni lingkup rumah tangga serta tingkat rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW).

Pesan tersebut disampaikan oleh Imam Wihdan seusai menghadiri kegiatan sarasehan bertema “Pengelolaan Sampah” yang berlangsung di Gedung Serbaguna Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, pada Minggu malam (1/11/2026).

Dalam pemaparannya, Imam menyampaikan bahwa volume sampah di Kota Kediri mengalami peningkatan, terutama yang bersumber dari berbagai aktivitas pemerintah seperti program MBG maupun SPBG. Mayoritas dari sampah tersebut merupakan limbah organik yang mencapai lebih dari 55 persen. Mengingat sifatnya, sampah organik tentu tidak dapat dibiarkan menumpuk begitu saja tanpa penanganan yang tepat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Klotok.

“Selama ini yang terjadi di TPA Klotok itu kan masih sebatas kumpul, angkut, buang. Padahal yang mendominasi adalah sampah organik. Jika sampah organik ini dapat diselesaikan di tingkat yang paling bawah, seperti di RT, RW, atau kelompok rumah tangga, tentu akan meringankan beban TPA secara signifikan,” tutur Imam Wihdan.

Pengelolaan Berbasis Sumber dan Penguatan Edukasi

Lebih lanjut, politisi Partai Golkar ini berpandangan bahwa idealnya penanganan sampah seyogianya diselesaikan sedekat mungkin dengan sumbernya. Apabila sekelompok warga dapat mengelola sampah secara mandiri bersama tetangga sekitar, beban penampungan akhir tentu akan berkurang.

Selain itu, ia juga menaruh perhatian pada optimalisasi TPS3R agar pemilahan limbah dapat berjalan dengan lebih baik. Menurutnya, kunci utama dari keberhasilan manajemen sampah terletak pada konsistensi edukasi serta pendekatan persuasif yang berkelanjutan kepada masyarakat.

“Kunci utama dalam pengelolaan sampah ini adalah mengedukasi masyarakat. Pengelolaan harus dimulai dari sumbernya, yaitu warga. Untuk itu, kita membutuhkan sosialisasi dan kampanye yang menyentuh hati masyarakat secara masif,” tambahnya.

Membenahi Ekosistem dan Teknologi Pemrosesan Akhir

Di samping membangun kesadaran di tingkat akar rumput, Imam menilai bahwa pembenahan di tingkat TPA Klotok juga menjadi hal yang tak kalah krusial. Ia menjelaskan bahwa TPA bukan sekadar tempat penampungan akhir semata, melainkan pusat pemrosesan akhir agar pengolahan limbah memenuhi standar lingkungan yang baik.

Kendati demikian, ia menyadari bahwa perbaikan ekosistem persampahan ini merupakan proses jangka panjang yang memerlukan perencanaan matang serta dukungan investasi yang memadai.

“Kita harus memiliki target yang terukur, mau dibawa ke mana pengelolaan ini dalam tiga hingga empat tahun ke depan. Penanganan sampah ini membutuhkan komitmen jangka panjang (multi-years) dan tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat,” pungkasnya. (ang)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button