Berita

Potensi Listrik di Balik 850 Ton Sampah Kediri dan Tantangan yang Menghadang

Kediri, WartaJenggolo.com — Tumpukan sampah yang saban hari memenuhi sudut Kota dan Kabupaten Kediri rupanya menyimpan potensi besar yang belum tergarap optimal. Dengan total produksi sampah gabungan yang menembus angka 850 ton per hari, gagasan untuk mengubah limbah rumah tangga ini menjadi energi listrik kembali mencuat ke permukaan melalui skema kerja sama regional.

​Anggota DPRD Jawa Timur, Khusnul Arif, menilai pola lama yang sekadar mengandalkan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sudah tak lagi relevan. Kebutuhan lahan yang makin menyempit, berpacu dengan laju pertumbuhan penduduk serta aktivitas ekonomi, menuntut adanya terobosan baru.

​“Peluang itu ada ketika daerah kemudian mengusulkan kepada provinsi untuk melakukan kerja sama regional terkait pengelolaan sampah,” ujar Khusnul di sela kegiatan sosialisasi infrastruktur persampahan bersama masyarakat bertempat di De’Pratnya Hotel, Jl. Pamenang No.27, Katang, Sukorejo, Kec. Ngasem, Kabupaten Kediri, Minggu (20/9/2026).

Pernah Digagas, Terganjal Fiskal Daerah

​Upaya menyatukan langkah antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan Pemkot dan Pemkab Kediri sebenarnya bukan cerita baru. Kajian mendalam sempat disusun, bahkan draf kerja sama sudah ditandatangani oleh tiga kepala daerah terkait. Namun, langkah tersebut terhenti di tengah jalan akibat berbagai dinamika, terutama keterbatasan kemampuan anggaran atau fiskal daerah.

​Meski begitu, asa untuk menghidupkan kembali proyek ini belum sepenuhnya padam. Pemerintah pusat saat ini gencar mendorong percepatan program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di pelbagai daerah, dan Jawa Timur menjadi salah satu wilayah prioritas.

​Namun, untuk melangkah ke sana, ada syarat teknis ketat yang harus dipenuhi, terutama soal kuota minimal timbulan sampah harian.

​Secara rincian, Kota Kediri menyumbang sekitar 180 ton sampah per hari, sementara Kabupaten Kediri menyuplai volume yang jauh lebih besar, yakni 670 ton per hari. Jika digabungkan, volumenya memang mencapai 850 ton.

​“Kalau kita 670 (ton), tapi 180 (ton) ini sepertinya belum memenuhi kuota untuk kerja sama yang kemudian difasilitasi pemerintah pusat,” jelas Khusnul. Angka-angka ini masih perlu dihitung ulang secara cermat agar sesuai dengan standar teknologi PSEL yang disyaratkan.

Bukan Cuma Diolah, Timbulan Sampah Harus Ditekan

​Di luar wacana PSEL, Khusnul mengingatkan bahwa tantangan utamanya bukan sekadar membereskan sampah yang sudah menggunung, melainkan memotong laju pertumbuhannya dari sumber pertama.

​Langkah konkret yang mendesak untuk dilakukan adalah memperkuat regulasi di tingkat daerah, seperti pembatasan penggunaan plastik sekali pakai, serta menggalakkan edukasi pemilahan sampah mandiri dari skala rumah tangga.

​Sampah organik bisa diolah menjadi kompos secara mandiri, sedangkan sampah anorganik yang bernilai ekonomi disalurkan ke bank sampah atau daur ulang. Pasalnya, teknologi Pengembang Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) pun membutuhkan pemilahan awal yang ketat; tidak semua jenis sampah bisa langsung masuk ke mesin pembakaran atau pengolahan energi.

​“Untuk diolah menjadi sumber listrik tentunya ada kriteria sampah tertentu. Jadi begitu sampai di TPA ada pemilahan, ada pemrosesan, mana yang bisa digunakan,” tambahnya.

Belajar dari Benowo Surabaya

​Di Jawa Timur sendiri, pengolahan sampah berbasis energi yang terbukti beroperasi secara penuh adalah PLTSa Benowo di Surabaya. Proyek tersebut menjadi bukti nyata bahwa limbah perkotaan bisa disulap menjadi daya listrik yang bermanfaat bagi masyarakat luas, meski proses menuju ke sana memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

​Peluang bagi Kediri Raya untuk menyusul jejak Surabaya sejatinya tetap terbuka lebar. Namun, kunci utamanya kini berada di meja diplomasi: sejauh mana Pemkot Kediri, Pemkab Kediri, dan Pemprov Jatim duduk bersama untuk merumuskan ulang skema pembiayaan, kepastian regulasi, serta kejelasan mekanisme teknisnya.

​Jika dirancang dengan matang, gunungan sampah yang selama ini dianggap sebagai beban lingkungan dan pemicu masalah sosial kelak bisa berubah menjadi sumber energi baru yang menyinari Kediri. (ang)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button